This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 07 Maret 2014

Netanyahu Desak AS untuk Lebih Menekan Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah meminta kekuatan dunia untuk meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Iran atas program nuklirnya.


Mengatasi lobi pro - Israel, American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), di Washington, Selasa (4/3/14), Netanyahu mengatakan kekuatan dunia harus membatalkan pelonggaran sanksi mereka menyusul kesepakatan bersejarah dengan Iran.

Dia menyatakan penyesalannya bahwa Iran telah diizinkan untuk melanjutkan kegiatan memperkaya uranium di bawah kesepakatan yang telah ditandatangani November lalu dengan enam kekuatan dunia - Amerika Serikat , Perancis, Inggris , Rusia, Cina dan Jerman.

Netanyahu juga menegaskan seruannya untuk pembongkaran semua kegiatan nuklir di Iran.

Iran telah berulang kali menekankan bahwa program nuklirnya dimaksudkan untuk tujuan sipil.

Negara ini sedang dalam pembicaraan dengan enam kekuatan dunia untuk sepenuhnya menyelesaikan sengketa yang berumur satu dekade atas program nuklir Teheran.

Rabu, 05 Maret 2014

Hizbullah Gagalkan Proyek Ideologi Takfiri

Beberapa waktu lalu, Inggris gagal merayu Uni Eropa agar memasukkan sayap mliter Hizbullah dalam list organisasi teroris. Meski begitu melalui tekanan Israel dan AS beberapa bulan terakhir, diplomat skeptis Eropa akhirnya menolak mengambil langkah yang berpotensi menghancurkan kepentingan Eropa di Libanon dan dunia Islam secara keseluruhan.


Dalih yang diajukan London pada Uni Eropa tak lain pengumuman pemerintah sayap kanan Bulgaria yang merupakan sekutu dekat Washington dan Tel Aviv, dimana pada Februari lalu menuduh bahwa dua orang yang bertanggung jawab dalam serangan bom di Bandara Burgas dan menewaskan 5 wisatawan Israel pada Juli tahun lalu (Rabu, 18/07/2012) adalah anggota sayap militer Hizbullah.

Tapi dalih itu, ditolak kelompok Sosialis dan bahkan menyalahkan mereka karena menuduh Hizbullah tanpa membawakan bukti. Tak lama berselang, pemerintah Bulgaria yang korup itu pun lengser karena pemberontakan rakyat.

Pihak eksekutif baru Bulgaria (kelompok sosialis) pada 5 Juni 2013, lalu, menyatakan bahwa indikasi Hizbullah berada di balik serangan itu sangat kecil. Dan hal ini tak akan menjustifikasi tindakan Uni Eropa untuk memasukkan Hizbulah dalam list teroris.

Hizbullah sendiri membantah keterlibatannya dalam serangan Burgas itu. Beberapa ahli malah menyatakan, ada indikasi bahwa pemboman itu hanyalah operasi badan intelijen Israel untuk mengisolasi Hizbullah dan menekan Uni Eropa untuk mem-blacklist Hizbullah.

Sementara itu, klaim Inggris itu jadi terkesan sangat munafik karena London pada saat yang sama menyerukan pengiriman senjata untuk kelompok teroris di Suriah yang terkait dengan al-Qaeda (Front al-Nusra) yang telah melakukan berbagai tindak kekejaman kemanusiaan. Sikap munafik ini didukung penuh oleh Perdana Mentri Inggris, David Cameron dan Menlu William Hague. Opini publik pun mengecam itu bajkan oleh pejabat tinggi lain di Inggris, termasuk Walikota London, Boris Johnson.

Sebelumnya, Jerman dan Perancis, juga menolak tawaran Inggris. Tapi kedua negara itu kemudian berubah sikap. Menlu Perancis, Laurent Fabius dalam konfrensi "Friends of Suriah" di Amman, 22, Mei 2013, menegaskan dukungan Inggris kepada kelompok teroris Suriah. Tapi ini tak mengejutkan sama sekali; sebab lobi Yahudi Zionis memang mengendalikan kebijakan luar negeri Perancis di bawah pemerintahan Nicolas Sarkozy dan François Hollande.

Zionis telah lama memperketat kebijakan bermusuhan mereka terhadap Iran, Suriah dan negara-negara Muslim lainnya dengan bantuan rezim boneka pendukung terorisme, Saudi dan Qatar.

Beberapa tahun terakhir ini, Inggris dan Perancis mempromosikan kebijakan neokolonial demi mengontrol beberapa negara koloni mereka sebelumnya dan mendirikan pemerintahan budak, seperti yang terjadi di Libya.

Negara-negara Eropa lainnya menolak tawaran Inggris demi membela kepentingan mereka di Libanon. Hizbullah bukan hanya partai dalam pemerintahan Libanon tapi juga wakil sah 1/3 populasi Syiah. Di sisi lain, beberapa pemerintah mengira langkah yang ditawarkan Inggris itu justru akan memperparah kerusuhan di Timur Tengah. Menlu Italia, Emma Bonino bahkan mengatakan, jika Hizbullah dimasukkan dalam blacklist teroris, maka stabilitas Libanon akan semakin rapuh.

Langkah ini juga akan membuat Uni Eropa sulit melakukan kontak dengan Libanon. Perusahaan-perusahaan Eropa yang beroperasi di Libanon juga akan rusak kapasitasnya.

Menurut Nidal Hémadé, kolumnis TV Al-Manar, jajaran perwira tentara Perancis gempar saat Fabius memperingatkan konsekuensi keputusan seperti itu. Perancis akan berbuat apa ketika delegasi kementerian Libanon mengunjungi Paris? tanya seorang perwira militer Perancis.

Kepentingan Perancis di Libanon dan Timur Tengah jauh jauh lebih besar dibanding kepentingan Hizbullah di Perancis. Di Libanon ada 5 pusat budaya Perancis, jumlah terbesar di Timur Tengah.

Kemudian, media Israel mulai meluncurkan kampanye melawan negara-negara seperti Irlandia, Swedia, Finlandia, Polandia dan Austria serta menyalahkan mereka karena menolak tawaran Inggris. Tapi, semua negara itu mempertahankan sikap independen mereka dan tidak tunduk pada tekanan AS atau Israel sampai sekarang.

Keputusan mem-blacklist Hizbullah sebagai teroris akan memicu pertanyaan menganai kehadiran pasukan perdamaian PBB di Libanon. Saat ini, pasukan itu mewakili selusin negara Uni Eropa. Dan Austria telah mengumumkan akan menarik 300 tentaranya dari kontingen PBB di Dataran Tinggi Golan setelah Uni Eropa mencabut embargo senjata terhadap teroris Suriah.

Jelas, tawaran Inggris dan Perancis itu sebenarnya disebabkan peran Hizbullah dalam perang Suriah dan bukan murni tuduhan terorisme.

Dalam hal ini, Fabius mengatakan, "Mengingat keputusan Hizbullah dan fakta Hizbullah berjuang sangat keras (di Suriah), saya menegaskan bahwa Perancis akan mengusulkan penempatan sayap militer Hizbullah dalam list organisasi teroris."

Tapi, keterlibatan Hizbullah di Suriah itu terjadi dalam sebuah kerangka strategis agresi yang tengah dijalankan terhadap Suriah, Libanon dan Irak oleh Amerika, Israel, Inggris, Prancis, Turki, Yordania, Arab Saudi dan Qatar.

Dalam agresi itu, kelompok Wahabi Takfiri menghancurkan tatanan nasional dan sosial di tiga negara tersebut. Didorong sebuah ideologi ekstrimis dan brutal, geng internasional itu berusaha menghancurkan agama minoritas, seperti Kristen, Alawit dan Syiah. Betapa banyak pendeta Kristen, ulama Sunni dan Syiah yang dipenggal kepalanya atau dibunuh dengan kejam oleh kelompok-kelompok teroris dukungan Barat, Arab Saudi dan Qatar itu.

Klaim Barat tentang wujud "kelompok moderat" tak lain dusta belaka. Tentara Bebas Suriah (FSA) merupakan payung bagi ratusan kelompok yang berperang bersama Front al-Nusra yang berafiliasi dengan al-Qaeda.

Anggota mereka adalah ekstremis dan teroris fanatik. Perkembangan baru FSA malah menunjukkan kelompok itu tak berbeda dengan Front al-Nusra. Beberapa anggotanya merupakan penjahat-penjahat terkenal yang dibebaskan dari penjara Saudi untuk pergi berperang di Suriah.

Di awal konflik Suriah, banyak roket dan mortir yang menyerang wilayah Libanon. FSA mengakui bertanggung jawab dalam dua serangan tersebur. Mayoritas serangan itu ditujukan pada tentara Libanon atau desa dengan penduduk mayoritas Syiah.

Hizbullah dan penduduk desa perbatasan akhirnya memutuskan untuk bergerak menanggapi ancaman ini. "Kami telah meningkatkan jumlah personel di perbatasan dan patroli bersama di sana dan di dalam wilayah Libanon untuk mencegah infiltrasi kelompok-kelompok bersenjata," kata anggota Hizbullah pada Al-Jazeera tanpa menyebut namanya. Tapi, usaha mengontrol wilayah perbatasan Libanon itu tidak cukup, karena kelompok teroris menyerang Libanon dari zona kekuasaan mereka di Suriah.

Kemudian Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hasan Nasrullah mengungkapkan rincian plot jahat yang juga berusaha melemahkan gerakan perlawanan Libanon itu. Tapi tujuan utama plot itu adalah menghancurkan ideologi Arabisme di Kawasan dan membagi negara-negara Arab menjadi entitas-entitas kecil menurut kriteria sektarian atau etnis. Dan dalam kondisi ini, Israel akan meraup manfaat besar jika plot itu sukses.

Seorang pakar Libanon, Ghaled Kandil dalam situs Neworientnews.com menyatakan, "Dengan memutuskan berperang di Suriah menentang proyek ini, Hizbullah telah melindungi rakyat di Kawasan, agama mereka, keragaman mereka, kesatuan jaringan sosial dan keinginan untuk melawan proyek hegemonik Israel yang menjadi jantung petempuran Hizbullah.

"Hizbullah tetap setia pada tradisinya sebagai garda depan pertempuran melawan proyek Israel-Amerika yang hari ini jsutru ditegakkan oleh kelompok Takfiri-Salafi.

Komandan Iran: AS akan Rasakan Neraka Jika Serang Iran

Seorang komandan senior Iran mengatakan Amerika Serikat akan menghadapi bencana dan neraka di Timur Tengah jika berani melancarkan serangan terhadap Republik Islam Iran.


"Semua pasukan AS di wilayah Timur Tengah berada dalam jaring dan jangkauan militer Republik Islam Iran, dan jika Amerika membuat kesalahan, wilayah ini akan berubah menjadi neraka bagi mereka, " Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Masoud Jazayeri, Selasa (4/3/14).

"Presiden AS Barack Obama dan Sekretaris negara John Kerry berbicara tentang dampak dan opsi militer yang selalu ada di atas meja AS telah menjadi bahan tertawaan rakyat Iran, " tambahnya.

Dalam sebuah wawancara dengan jaringan berita Bloomberg pada hari Senin (4/3/14), Obama kembali mengulangi ancamannya "semua opsi di atas meja", yang menyinggung kemungkinan aksi militer AS terhadap Iran, dan mengatakan, " Saya tahu mereka menganggapnya serius. "

Ia mengatakan ia yakin bahwa Iran akan mengambil pernyataannya serius ketika mereka melihat 35.000 personel militer AS malakukan latihan konstan. "

Komandan Iran meremehkan pernyataan presiden AS tentang jumlah pasukan AS di kawasan itu, mengatakan komentar yang jauh dari kenyataan dan dapat dianggap sebagai lelucon.

Analis; Iran-Suriah-Rusia Ciptakan Dunia Baru Tanpa Hegemoni AS

Tak dapat diungkiri lagi, Suriah dan para sekutunya (Iran, Rusia, dan Hizbullah) telah mengukir sukses politik dan militer luar biasa dalam mematahkan konspirasi AS cs melalui serangan bertubi-tubi pihak pemberontak takfri. Kepemimpinan Suriah juga mendapat dukungan rakyat yang terus meluas. Demikian ungkap jurnalis investigatif masalah internasional, Ghaleb Kandil.


"(Dengan semua itu) AS sedang bersiap-siap menutupi rencana zionis 'Israel' untuk membangun 'zona penyangga keamanan' di Suriah, yang berada di bawah kendali milisi pemberontak Suriah binaan 'Israel'," kata Kandil.

Selain itu, sejak beberapa bulan lalu, melalui Afghanistan, pemerintahan Obama dipaksa untuk membuka saluran perundingan dengan Iran dan Rusia. "Sepanjang bulan tersebut, akan disaksikan munculnya kesetaraan baru untuk membangun kemitraan internasional yang baru, yang harus dimulai dengan perubahan dalam struktur keseimbangan kekuasaan di PBB, untuk melepaskan organisasi itu dari hegemoni AS," papar Kandil.

Kemenangan Suriah yang menjulang tinggi di cakrawala internasional, kelak akan dimahkotai oleh terpilihnya kembali Presiden Bashar al-Assad, seperti yang diakui laporan intelijen AS yang diserahkan pada Kongres AS. "Sebentar lagi kita akan saksikan bersama, lahirnya sebuah dunia baru," pungkasnya.

Senin, 03 Maret 2014

Al-Qaeda Kirim Perempuan ke Libanon untuk Bom Bunuh Diri

Satu kelompok Takfiri radikal menggunakan para perempuan yang dikirim dari Suriah untuk melakukan serangan bom bunuh diri di Libanon.

Puluhan Takfiri perempuan memasuki Libanon dari kota Yabroud di perbatasan Suriah untuk melakukan serangan terorisme di dalam wilayah Libanon, demikiam sumber-sumber keamanan Libanon mengatakan, Ahad, 0203/14.

Menurut Surat Kabar Libanon berbahasa Arab, al-Safir, sekelompok Takfiri bersenjata yang terlibat dengan Brigade Abdullah Azzam yang ditangkap tentara Libanon mengungkapkan informasi penting mengenai masuknya para pelaku bom bunuh diri wanita di wilayah Libanon.

Takfiri yang diinterogasi itu berasal dari kelompok bersenjata kecil yang dipimpin oleh Siraj al-Din Dorighat, elemen Takfiri yang setia kepada Brigade al-Azzam.

Laporan itu mengutip sumber keamanan anonim yang mengatakan bahwa mereka menahan empat Takfiri dari kelompok Dorighat yang di antaranya tiga orang Palestina dan satu warga Libanon.

Sumber tersebut lebih lanjut mengatakan, para tahanan memberikan informasi tentang empat wanita yang memasuki Libanon utara di Lembah Bekaa lewat Suriah dengan dukungan Dorighat.

Para perempuan itu diberi rompi peledak khusus untuk diledakkan di pusat-pusat keagamaan tertentu di Libanon, menurut pengakuan para tahanan.

Laporan itu mengatakan tentara Libanon sudah mencari tersangka lainnya.

Libanon berulang kali dihantam aksi bom bunuh diri beberapa bulan terakhir oleh Takfiri yang menargetkan ibukota Beirut dan kota komunitas Hizbullah di Hermel, di Lembah Bekaa.

Brigade Azzam adalah kelompok Takfiri yang memiliki hubungan dengan al-Qaeda yang terlibat dalam beberapa serangan bom bunuh diri baru-baru ini.

Kelompok ini juga mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan Takfiri yang menghantam kedutaan Iran di Beirut pada November 2013 yang menewaskan 25 orang.

Minggu, 02 Maret 2014

Menhan: Iran Mampu Produksi Berbagai Jenis Rudal

Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Hossein Dehqan mengatakan Iran mampu memproduksi berbagai jenis rudal.

"Hari ini, kami mampu menghasilkan berbagai jenis rudal, termasuk rudal permukaan- ke-permukaan, permukaan-ke-udara, udara-ke-permukaan dalam industri pertahanan," kata Dehqan, Sabtu (1/3/14).

Dehqan mencatat bahwa jangkauan, presisi dan kemampuan taktis rudal merupakan masalah sangat penting bagi Iran. Dia menambahkan, negaranya juga berhasil memproduksi rudal penghindar radar.

Iran memiliki teknologi pertahanan negara yang mampu memenuhi semua tuntutan Angkatan Bersenjata dalam menghadapi ancaman asimetris, tambahnya.

Pejabat Iran itu mengatakan, Republik Islam juga mampu merombak pesawat sipil dan  pihaknya berencana melengkapi semua kapal Iran dengan sistem rudal. Republik Islam juga berencana meningkatkan ekspor peralatan militernya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran membuat terobosan besar di sektor pertahanan dan mencapai swasembada dalam produksi peralatan dan sistem militer penting.
sumber: http://www.islamtimes.

Iran Siap Bantu Libanon Lawan Terorisme

Seorang anggota Parlemen Iran mengatakan pada gerakan perlawanan Hizbullah bahwa Republik Islam siap mendukung Libanon dalam memerangi terorisme.


Hal itu dikemukakan oleh Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Majlis Iran, Alaeddin Boroujerdi dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah di Beirut pada hari Sabtu (1/3/14).

Boroujerdi mengatakan kepada Nasrallah bahwa Tehran mendukung persatuan, stabilitas, dan pertahanan perlawanan di Libanon dan Suriah.

Kedua tokoh itu mengadakan pembicaraan tentang perkembangan regional di kawasan dan kesepakatan nuklir Tehran dengan enam kekuatan dunia.

Wakil rakyat Iran di Majlis itu juga mengutuk serangan terbaru rezim Israel terhadap salah satu basis Hizbullah. Serangan itu menghantam basis Hizbullah di perbatasan Libanon-Suriah dekat desa Janta pada hari Senin (24/2/14) dan mengakibatkan kerusakan material.

Nasrallah juga mengecam serangan bom terhadap Kedutaan Besar Iran di Beirut. Setidaknya 25 orang, termasuk atase kebudayaan Iran untuk Beirut, tewas dan 150 lainnya terluka pada bulan November tahun lalu setelah dua ledakan menghantam wilayah dekat Kedutaan Besar Iran di Beirut selatan