This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 12 Februari 2014

Al-Qaeda, Musuh Muslimin Terbaik Cetakan Industri Militer AS

Setelah mendongkel Gaddafi, pasukan NATO membantu menerbangkan militan LIFG ke Suriah untuk melanjutkan perjuangannya menerapkan hukum Syariah di seluruh kawasan. Namun, penggunaan teroris al-Qaeda sebagai bidak di atas papan catur geopolitik untuk menjustfikasi ekspansi neo-kolonial bukanlah fenomena modern yang terbatas pada pemerintahan Obama. Di bawah rezim George W. Bush, kelompok yang berafiliasi denga al-Qaeda seperti Jundallah, juga digunakan untuk melakukan pemboman dan pembunuhan di Iran sebagai bagian dari kampanye destabilisasi lebih luas yang menarget Teheran.


Hubungan dekat Amerika Serikat dengan kelompok yang kemudian dikenal sebagai al-Qaeda membentang kembali ke tahun 1970-an ketika Osama bin Laden dipersenjatai dan didanai CIA melalui agen rahasia ISI Pakistan untuk memimpin mujahidin Muslim melawan (mendiang Uni) Soviet di Afghanistan. Setelah itu, Bin Laden memimpin al-Qaeda ke Bosnia tak lama setelah pecahnya perang pada 1992 untuk melawan Serbia Bosnia yang kemudian menjadi sasaran serangan udara NATO. Sesaat sebelum pengeboman NATO di Yugoslavia pada 1999, Bin Laden dan al-Qaeda hijrah ke Kosovo, provinsi selatan Serbia, untuk membantu Tentara Pembebasan Kosovo, faksi teroris Albania yang didukung AS dan NATO dalam kampanye terornya melawan Serbia di wilayah tersebut.

"Amerika Serikat, yang awalnya melatih orang-orang Arab Afghanistan selama perang di Afghanistan, mendukung mereka di Bosnia dan kemudian di Kosovo," lapor National Post. Dengan bantuan jaringan teror Bin Laden, yang didukung AS dan NATO, tidak kurang dari 90 persen warga Serbia "dibersihkan secara etnis" dan dipaksa meninggalkan wilayah tersebut, sementara media internasional memainkan peran patuhnya dengan menggambarkan Albania sebagai "korban" agresi Serbia.

Nyaris seminggu sebelum peristiwa 9/11, mantan anggota al-Qaeda yang kemudian bergabung dengan Tentara Pembebasan Kosovo diterbangkan dari Makedonia oleh pasukan cadanga AS. Mantan penerjemah FBI, Sibel Edmonds, mengungkapkan bahwa AS mempertahankan "hubungan intim" dengan Bin Laden, "dengan segala cara sampai tanggal 11 September itu." Para anggota jaringan teror Bin Laden terus mempertahankan hubungan dekatnya dengan AS dan sekutunya, bahkan selepas peristiwa 9/11.

Anwar al-Awlaki, sosok yang membantu rencana pengeboman yang gagal pada Hari Natal, penembakan Fort Hood, upaya pengeboman Times Square, dan juga diberitakan sebagai terduga pembajak pesawat pada 11 September, menyantap makanan di Pentagon beberapa bulan setelah kejadian 9/11. Tersangka dalang pengeboman 7/7 di London, Haroon Rashid Aswat, juga terungkap sebagai menjadi aset intelijen, yang dalam hal ini bekerja untuk MI6 Inggris.

Mantan utusan Arab Saudi untuk AS, Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz al-Saud, yang dikenal sebagai "Bandar Bush" karena kedekatan hubungannya dengan mantan Presiden George W. Bush dan ayahnya, merupakan dalang teror lain yang mendapat gaji dari kompleks industri militer AS. Saat menjabat Duta Besar Arab Saudi di Washington, Bandar bekerja sama secara rapat dengan Direktur CIA George Tenet.

Bandar hilang dari peredaran setelah ketahuan bahwa dirinya menjadi pemimpin de facto "al-Qaeda di Irak" yang telah bertanggung jawab dalam mempersenjatai organisasi teroris di Timur Tengah. Sosok yang dilaporkan pernah dijadikan George W. Bush sebagai tempat berkonsultasi sebelum invasi Irak 2003 itu telah melatih, mendanai, dan mempersenjatai para teroris untuk membunuh tentara AS, sehingga menjadikan pemerintah AS memiliki justifikasi yang sempurna untuk tetap bertahan sebagai kekuatan pendudukan di negara itu.

Sementara itu, di Afghanistan, sebagaimana ditegaskan Presiden Afghanistan Hamid Karzai tahun lalu, pemerintahan Obama kini juga berkolusi dengan Taliban sekalipun kelompok itu melancarkan bom bunuh diri dalam "melayani AS". Hal ini memberi dalih yang sempurna bagi pasukan AS untuk tetap berada di negara itu untuk menjaga ladang opium, sementara ekspor heroin Afghanistan terus mencapai rekor tertinggi.

Dalam hampir setiap kasus, mulai dari Afghanistan, Serbia, Irak, Libya, hingga Suriah, AS telah membantu atau paling tidak mengeksploitasi kehadiran al-Qaeda sebagai justifikasi untuk melancarkan perang, pergantian rezim, dan pendudukan. Berkat kebijakan ini, al- Qaeda sekarang menguasai lebih banyak wilayah di dunia Arab ketimbang sebelumnya. Jika peristiwa 9/11 benar-benar menandai awal dari "perang melawan teror", maka para teroris itu jela-jelas keluar sebagai pemenang.

Inilah sebabnya, mengapa yang disebut perang melawan teror telah menjadi penipuan monumental sejak awal. Kompleks industri militer AS membutuhkan teroris sebagai keniscayaan ekspansi neo-kolonial di mancanegara dan penindasan domestik di rumahnya sendiru, yag dengannya pemerintah AS melakukan yang terbaik dalam mencipta dan mempertahankan mereka (para teroris) di hampir setiap sudut Timur Tengah dan Afrika Utara.
SUMBER : http://www.islamtimes.

HAMAS DAN FATAH LANJUTKAN PEMBICARAAN DI GAZA

Dua faksi politik utama Palestina, Hamas dan Fatah, sedang membahas cara menyelesaikan perbedaan dalam pertemuan di Jalur Gaza.




Pembicaraan itu diadakan hari Minggu (9/2/14) antara delegasi tingkat tinggi Fatah yang dipimpin Nabil Shaath dan Ismail Haniyeh, Perdana Menteri Palestina yang terpilih secara demokratis.

Haniyeh mengatakan, Hamas memutuskan untuk kompromi dengan Fatah. Hamas juga sedang mencari inisiatif untuk mewarnai secara positif pembicaraan rekonsiliasi itu.

Di tempat lain dalam sambutannya, Haniyeh memperingatkan bahwa usulan Menteri Luar Negeri AS John Kerry baru-baru ini untuk kesepakatan antara Israel dan Otoritas Palestina tidak akan membantu perdamaian karena tidak mengakui hak-hak Palestina.

Dalam perjalanannya ke Gaza, Shaath juga bertemu dengan sejumlah pejabat Hamas lainnya untuk mengakhiri persaingan antara kedua belah pihak.

Shaath mengatakan pada wartawan bahwa mengakhiri perpecahan dengan membentuk pemerintah persatuan serta menyelenggarakan pemilu yang adil merupakan sebuah keharusan bagi banyak warga Palestina.

Hamas dan Fatah bersengketa sejak Hamas memenangkan pemilu Parlemen Palestina tahun 2006.

Fatah dan Hamas telah mencapai dua perjanjian rekonsiliasi di Mesir dan Qatar pada tahun 2011 d
an 2012  tapi hasilnya tidak dilaksanakan karena beberapa perbedaan.

sumber : http://www.islamtimes.

Minggu, 09 Februari 2014

SEJARAH SURYA, TAK PERNAH MENGATAKAN"APAKAH ANDA SUNNI ATAU SYI'AH

Masih berpikir perang di Suriah adalah perang agama? Bersiaplah mengubah pandangan Anda setelah mendengar kisah Zahir dan Lina, sepasang suami istri asal  Suriah ini.


Kelompok militan asing yang turut memorakporandakan Suriah pasti tak peduli tentang hubungan antar-keyakinan yang berabad-abadterjalin di Suriah. Bahkan mungkin mereka tak sadar bahwa istri Presiden Bashar al-Assad adalah seorang Sunni. Mengakui hal itu akan menjungkirbalikkan gagasan dasar perang Suriah, di mana kelompok Sunni dikatakan berkonflik dengan kelompok Alawiyah dan Syiah.

Kasus keluarga campuran Sunni-Syiah bukan monopoli Bashar al-Assad—di Suriah, pernikahan campuran seperti itu banyak sekali. Keluarga-keluarga inilah yang menjungkirbalikkan konsep “perang agama” antara Sunni-Syiah di Suriah. Dua setengah tahun upaya memecah belah Suriah atas dasar latar belakang agama praktis gagal total sebagian karena pernikahan campuran ini. 

Coba saja kita temui suami-istri Zahir and Lina. Keduanya terpaksa mengungsi dari rumah mereka di Homs, Suriah pada November 2011, dan kini tinggal di Lembah Beqaa, Lebanon. Apartemen mereka sempat menjadi sasaran rudal pada April lalu.

Zahir seorang Sunni, Lina penganut Syiah. Lina mengenakan burqa khas Syiah yang berwarna hitam. Dia mengenakannya sejak saat masih tinggal di Suriah, juga saat berangkat mengungsi, yaitu ketika kaum militan di Suriah mulai melakukan pembunuhan terhadap kaum Syiah.

Sepanjang hidupnya, Lina mengenal banyak sekali keluarga Sunni yang mendukungnya benar-benar karena dia seorang Syiah yang membutuhkan perlindungan. Baik Zahir maupun keluarganya, tak pernah mempertanyakan mengapa laki-laki itu menikahi seorang perempuan Syiah. Demikian juga keluarga Lina tak pernah mempertanyakan hal itu, meski kedua anak mereka mengikuti sang ayah sebagai penganut Sunni.

Keluarga Zahir dulunya memiliki perusahaan kecil yang memproduksi tas tangan wanita. Dan di lokasi pabrik itulah perang Suriah berawal, menghancurkan sumber penghasilan keluarga tersebut. Semua tetangga Zahir yang Sunni kemudian mengungsi ke kawasan Syiah di Lebanon. 

Waktu ditanya, mengapa keluarga dan tetangga-tetangganya yang Sunni tidak memihak pemberontak, Zahir menjawab: “Karena kami melihat bahwa para militan dan banditlah yang ada di sana—mendukung mereka jelas bukan pilihan. Yang memberontak sama sekali bukan warga yang tak puas dengan Bashar Assad, tapi para militan dan bandit.”

“Dalam sejarah, tak pernah kami di Suriah mendengar orang bertanya, ‘Apakah Anda Sunni?’ atau ‘Apakah kamu Syiah?’” Ujar Zahir. Dia pun menambahkan, “Kalau kami persoalkan perbedaan Sunni-Syiah, tak akan mungkin saya menikah dengan istri saya ini.”

Jumat, 07 Februari 2014

CONTOH RUMAH YANG BAIK (RUMAH SYAIDAH FATIMAH)

Imam Ali as ketika menikah dengan Sayidah Fathimah az-Zahra as hanya memiliki sebuah rumah kecil di samping masjid Nabawi. Rumah ini begitu kecil dan sangat sederhana, sehingga tidak cocok untuk melaksanakan prosesi pernikahan. Oleh karenanya, Nabi Muhammad Saw berkata kepada Ali as, "Usahakan sebuah rumah di dekat sini agar aku dapat menyerahkan istrimu kepadamu."


Imam Ali as berkata, "Ada rumah Haritsah bin Nu'man di dekat sini."

Nabi Saw berkata, "Saya sudah meminjam beberapa rumah dari Haritsah untuk orang-orang Muhajirin yang tidak punya tempat tinggal. Sekarang saya malu untuk meminjam rumahnya yang lain darinya."

Haritsah mendengar percakapan ini dan kemudian mendekati Nabi Saw lalu berkata, "Seluruh hartaku milik Allah Swt dan Rasul-Nya."

Nabi Saw kemudian mendoakannya dan berkata, "Malam ini pinjamkan rumahmu kepada Ali dan Fathimah as."

Dengan demikian, acara pernikahan berlangsung, sementara Ali dan Fathimah as pergi ke rumah Haritsah. Setelah itu keduanya kembali ke rumah mereka dan memulai kehidupan yang sederhana. Rumah ini terletak di samping masjid Nabawi dan sampai sekarang tempat itu tetap dikenal dengan "Rumah Az-Zahra". (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber 1 : Sad Pand va Hekayat; Sayidah Fathimah Zahra as
sumber 2 :indonesian.irib.ir/hikayat/content/rumah-fathimah-az-zahra-as

RAHBAR KUNJUNGI MAKAM IMAM KHOMEINI RA

Sabtu, 2014 Februari 01 11:56

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengunjungi makam Imam Khomeini ra, di hari dimulainya perayaan selama 10 hari untuk menandai ulang tahun ke-35 kemenangan Revolusi Islam tahun 1979.


Ayatullah Khamenei pada Sabtu (1/2) pagi menziarahi makam Imam Khomeini ra, Pendiri Republik Islam Iran dan membacakan surat al-Fatihah.

Setelah itu, Rahbar mengunjungi makam Shohadaye Haftom-e Tir dan Behesht-e Zahra, dan membacakan doa untuk mereka.

Imam Khomeini ra kembali ke Iran pada tanggal 12 Bahman 1357 Hs (1 Februari 1979) setelah 15 tahun diasingkan.

Hari kembalinya Imam Khomeini ra ke Iran menandai dimulainya 10 hari perayaan yang lebih dikenal sebagai "Festival Dahe Fajr", yang berujung pada aksi unjuk rasa nasional pada tanggal 11 Februari, Hari Ulang Tahun Kemenangan Revolusi IslamIran.
sumber : http://indonesian.irib.ir/rahbar-kunjungi-makam-imam-khomeini

Rabu, 05 Februari 2014

BERITA KEBAIKAN : SIKAP IRAN SOAL ISRAEL TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH

Menteri Luar Negeri Iran menilai sikap Republik Islam terkait rezim Zionis Israel tidak mungkin berubah.

Kantor Diplomasi Umum dan Media Kementerian Luar Negeri Iran (5/2) melaporkan, Mohammad Javad Zarif, Menlu Iran mengatakan, "Sikap Republik Islam Iran yang tidak mengakui rezim Israel sama sekali tidak mengalami perubahan."


Menurut Zarif berlanjutnya krisis di Timur Tengah karena hak-hak rakyat Palestina terus dilanggar. "Republik Islam Iran selalu menegaskan hak untuk menentukan nasib sendiri rakyat Palestina, pembentukan negara Palestina merdeka dan kembalinya para pengungsi ke tanah air mereka," ungkapnya.

Terkait distorsi yang dilakukan atas statemennya dalam beberapa laporan yang dipublikasikan soal perubahan sikap Iran terkait Israel, Zarif mengatakan, "Sikap-sikap semacam ini bukan sesuatu yang tidak diprediksi sebelumnya mengingat keputusasaan yang dirasakan Israel dalam menghadapi politik luar negeri Republik Islam Iran."

sumber : indonesian.irib.ir/hidden-2